Pages

Banner 468 x 60px

Thursday, March 23, 2017

Potensi Terpendam Di Teluk Tomini

1 komentar

























Pernahkan anda mendengar tentang surga terumbu karang dunia ???.., jawaban tentunya ada di Negara kita, yakni Indonesia. Sejak dulu, Indonesia yang dikenal sebagai Negara maritime telah menjadi sasaran bagi para pedagang dunia. Alasannya Indonesia punya segalanya, mulai dari hasil-hasil rempah hingga potensi yang sangat besar terpendam didalam lautnya. Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terletak di kawasan segitiga karang dunia. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea, dan Kepulauan Salomon. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51.000 kilo meter bejur sangkar yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle. Tidak heran, Indonesia merupakan Negara yang berada di segitiga karang dunia. Lalu apa kaitannya dengan Teluk Tomini yang ada di kepulauan Sulawesi. 

Nih.., penjelasannya, disimak ya gan..,

Teluk Tomini merupakan teluk terbesar di Indonesia. Luasnya kurang lebih 6 juta hektar dengan potensi sumber daya alam yang kaya dan unik.  Teluk Tomini mempunyai peran penting bagi dunia karena letaknya yang persis berada di jantung segitiga terumbu karang. Teluk yang membentang di 3 Provinsi ini masing-masing Provinsi Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara tersebut terkenal memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar. Terumbu karang dan mangrove serta sumber daya pesisir yang kaya akan potensinya. Teluk dengan panjang pantainya mencapai 2.400 kilometer ini menyimpan potensi laut yang menjanjikan. Berdasarkan kajian bahwa luas perairan untuk penangkapan ikan mencapai 5.295.144. hektar. Kemudian budidaya laut seluas 6.072.202 hektar serta budi daya rumput laut dan kerapu mencapai 374.832 hektar. Potensi sumber daya ikan di Teluk Tomini mencapai sekitar 330.000 ton per tahun dan dapat dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per tahun.  Potensinya besar ya gan, heheheheheheh…

Kondisi oseanografi Teluk Tomini sendiri yang berhubungan dengan laut lepas seperti Laut Sulawesi dan Laut Maluku memungkinkan terjadinya pertukaran masa air yang dampak optimalnya adalah pada sirkulasi nutrient. Akibatnya teluk yang memiliki kedalaman hingga 4000 meter ini memiliki tingkat kesuburan tinggi dan dihuni oleh berbagai jenis ikan bernilai ekonomi tinggi sekaligus sebagai kawasan pengembang biakan sel telur ikan tuna. Tidak heran Teluk Tomini punya potensi yang sangat besar. Namun pertanyaanya apakah dengan sumber dan potensi yang sangat besar ini mulai dikelola secara professional??. Ini yang menjadi PR bagi kita semua. Melihat betapa pentingnya sumber daya  yang terkandung diwilayah Teluk Tomini maka tentunya ini harus dijaga dan dilestarikan. Eksplorasi yang dilakukan diwilayah Teluk Tomini harus memperhatikan keberlangsungan ekosistem kehidupan bagi biota laut yang ada.

Tidak heran dengan potensi yang sangat besar terpendam dalam kawasan Teluk Tomini maka pemerintah telah menetapkan Teluk Tomini sebagai kawasan budidaya ruang darat maupun laut yang pengembanganya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut. Dalam kawasan Teluk Tomini terdapat satu pelabuhan International yaitu pelabuhan Bitung dan satu pelabuhan nasional yakni pelabuhan Gorontalo. Hal ini ditunjang dengan 13 kawasan hutan lindung nasional terdiri dari satu kawasan suaka alam laut, tiga suaka margasatwa, tujuh cagar dan satu taman nasional serta satu taman laut nasional. Well.., dengan demikian maka Teluk Tomini punya andil besar terhadap kelangsungan terumbu karang dunia. Hal ini patut kita jaga dan lestarikan. Jangan ada lagi eksplorasi yang merusak habitat dan ekosistem yang ada. Mari kita jaga Teluk Tomini, kita lestarikan terumbu karang sebagai habitat utama pengembangan ikan di kawasan ini. (Nugie Humas) 
Read more...

Sunday, March 5, 2017

“LAHILOTE“ Cerita Legenda Gorontalo

0 komentar


Cerita tentang Lahilote tentunya sangat menarik untuk diulas dan dibahas. Mungkin sebagian besar masyarakat Gorontalo saat ini, mulai lupa bahwa kisah tentang Lahilote pernah ada di tanah Gorontalo. Cerita seperti ini tentunya harus dilestarikan. Guna menambah wawasan dan inspirasi agar nilai nilai budaya yang ada tidak akan lenyap ditelan waktu. 

Nih.. Awal Ceritanya gan..,  Santai Membacanya dan dihayati..........

Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang laki-laki yang bernama Lahilote. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai pencari kayu dan rotan di tepi hutan tersebut, hidup sebatang kara. Setiap pagi sampai petang, Lahilote keluar masuk hutan. Hal ini dilakukannya untuk menghidupi dirinya. Tinggal seorang diri di hutan tidak membuat lahilote takut. Hutan sudah menjadi teman dan sahabat baginya. Namun disuatu pagi ada yang aneh bagi Lahilote. Dari kejauhan, Lahilote mendengar suara manusia yang berisik dari sebuah telaga di tepi hutan. Saking penasarannya, Lahilote mendekati sumber suara tersebut. Lahilote yakin ini adalah suara manusia, karena kadang suara-suara tersebut melemah, kadang bersuara keras. Dari tempat yang jauh dan terlindung dari pohon besar maka Lahilote mengintip, suara apa yang ada di telaga. Antara percaya atau tidak, Lahilote melihat bahwa suara yang didengarnya tersebut adalah suara dari ketujuh bidadari yang sedang mandi di telaga tersebut.
Lahilote seakan tidak percaya, karena selama ini telaga yang ada di tepi hutan tersebut, tidak pernah didatangi oleh manusia maupun para bidadari. Ketujuh bidadari yang sedang mandi ini, tidak mengetahui kehadiran Lahilote ditempat tersebut. Para bidadari lebih menikmati keseruan mereka yang mandi ditelaga. Setelah beberapa saat, para bidadari ini segera terbang menuju khayangan. Dengan melihat pemandangan ini maka Lahilote berkesimpulan bahwa, apa yang dilihatnya merupakan para bidadari yang turun dari khayangan. Dengan mengetahui bahwa para bidadari ini sering mendatangi telaga tersebut, maka Lahilote setiap saat mendatangi telaga tersebut. Lahilote ingin memastikan kapan para bidadari ini turun lagi ke telaga. Oleh karenanya hamper setiap saat Lahilote datang ke telaga. Hari yang dinantikan oleh Lahilote pun akhirnya datang. Tepat hari ketujuh, Lahilote melihat dari arah langit ada tujuh buah titik putih terbang menuju telaga. Lahilote bergegas untuk bersembunyi dibalik bebatuan dekat telaga. Ia yakin ketujuh titik putih tersebut merupaakan bidadari yang ingin mandi ditelaga. Tidak menunggu lama, ketujuh bidadari ini sampai ditepi telaga. Satu persatu dari mereka mulai menceburkan diri sambil bermain air. Lahilote yang sedang mengintip mulai dihinggapi rasa penasaran. Dalam benaknya timbul perasaan cinta dan ingin mempersunting salah satu dari bidadari tersebut. Berbekal ilmu dan punya kesaktian tinggi maka Lahilote berhasil mencuri salah satu sayap bidadari, tanpa mereka ketahui. Setelah mendapatkan salah satu sayap bidadari, Lahilote bergegas pulang kerumah didalam hutan. Sayap bidadari, Ia sembunyikan dalam sebuah lumbung padi. Setelah menyembunyikan sayap tersebut, Lahilote pun kembali ke telaga tempat para bidadari yang sedang mandi. Dan betapa girangnya hati Lahilote, bahwa sang bidadari yang kehilangan satu sayapnya tidak bisa kembali ke khayangan. Bidadari tersebut telah ditinggalkan oleh bidadari lainnya.
Lahilote pun mendekati sang bidadari yang sedang menangis ditepi telaga. Berbekal niat tulus dan ingin membantu sang bidadari, Lahilote mengajak bidadari menuju kerumah Lahilote yang tidak jauh dari telaga. Seiring waktu berjalan, Lahilote dan sang bidadari ini melahirkan rasa saling sayang dan menyayangi. Dan pada suatu waktu, mereka berdua melangsung perkawinan. Waktu demi waktu mereka lalui dengan kebahagiaan. Lahilote setiap harinya bercocok tanam dan berburu dan sang bidadari membantu Lahilote dalam kegiatannya. Pekerjaan yang dilakukan oleh sang bidadari tentunya sangat berat, karena dunia antara Lahilote dengan dunia khayangan berbeda jauh. Sang bidadari pun menggunakan kesaktiannya sebagai putri kayangan. Ia dapat memasak dengan satu butir padi bisa mencukupi mereka berdua.

Pada suatu hari, dalam benak Lahilote muncul pemikiran lain. Lahilote berpikir lumbung padi mereka tidak pernah habis, padahal setiap harinya mereka masak dan makan bersama. Bahkan Lahilote belum pernah melihat istrinya menumbuk padi ketika akan memasak. Oleh karenanya timbul dalam pikirannya untuk mengamati keadaan istrinya dalam kesehariannya. Pada suatu hari, Istri Lahilote sedang menanak nasi diatas tungku. Periuk nasi tersebut diisi dengan sebutir padi kemudian ditutupinya.
Sambil menunggu masak, istri Lahilote pergi kesumur untuk mencuci pakaian. Kemudian Lahilote pun masuk ke dapur dan memeriksa periuk tersebut. Alangkah terkejutnya Lahilote melihat isinya. Hanyalah sebutir padi terendam di dalam air. Tahulah Ia akan rahasia isterinya. Selesai mencuci pakaian, sang istri masuk ke dapur memeriksa nasi yang di masaknya. Ketika periuk tersebut dilihatnya masih tetap sebutir padi. Sang istri tetap menunggu sampai sebutir padi ini bisa menjadi nasi. Namun hingga beberapa saat padi tersebut tidak berubah. Dalam benaknya, Ia mulai curiga bahwa periuk nasi ini telah dilihat oleh sang suami, Lahilote.
Seiring berjalannya waktu, padi yang ada dilumbung mulai habis, dan pada saat terakhir sang bidadari mengambil beras terakhir, maka nampaklah sayapnya yang dulu hilang. Dengan melihat sayapnya ini, maka sang bidadari yang menjadi istri Lahilote tersebut merahasiakan hal ini. Untuk mengelabui Lahilote, sang bidadari meminta Lahilote untuk mencarikan ikan dilaut. Kesempatan ini digunakan oleh sang bidadari untuk memperbaiki sayapnya yang sebagian mulai rusak. Selesai memperbaiki sayapnya maka sang bidadari bersiap untuk terbang ke khayangan. Sebelum terbang maka sang bidadari menemui lumbung padi tempat penyimpanan sayapnya selama ini. Ia berkata “Wahai lumbung, jangan sekali-kali memberi tahu suamiku, bahwa sayapku yang engkau simpan telah aku ambil”. Setelah itu, sang bidadari mulai memohon pamit kepada semua parabot rumah, menemui seluruh tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan yang ada disekitar rumah. Pada saat itu, sang bidadari melewatkan permononan pamitnya pada salah satu tumbuhan yakni pohon rotan dalam bahasa Gorontalo (Hutia Mala). Usai memohon restu tersebut, maka terbanglah sang bidadari ke khayangan. Namun sebelum menuju khayangan, sang bidadari menyempatkan diri untuk melihat Lahilote yang tengah memancing ikan di lautan. Pada saat itu, Lahilote sedang tertidur nyenyak di sebuah pantai. Sang bidadari kemudian meludahi Lahilote dengan air sirih pinang atau (Luwa Lo Pomama). Air sirih tersebut jatuh tepat ke dada Lahilote. Ia pun terbangun dan mulai merasakan ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Lahilote telah yakin bahwa istrinya telah menemukan sayapnya dan pergi meninggalkannya. Lahilote pun bergegas kerumahnya. Selama dalam perjalanan, Lahilote bertanya kepada setiap benda yang dilaluinya dan menanyakan apakah melihat istrinya. Namun semua benda dan tumbuhan tidak menjawab pertanyaan ini.

Dengan hati kecewa Lahilote terus mencari jejak isterinya. Ia bertemu dengan pohon rotan (Hutia Mala)  dan berkata “Wahai Hutia Mala (Pohon Rotan) tidakkah engkau melihat istriku?? Hutia Mala menjawab, Lahilote, Istrimu telah kembali ke khayangan. Dan jika engkau ingin ke khayangan maka penuhi tiga syarat dariku. Dengan niat ingin menemukan istrinya, maka ketiga syarat itupun dipenuhi, dan akhirnya Hutia Mala mengantar Lahilote menuju Khayangan. Sesampainya di kayangan, Lahilote melihat gadis-gadis yang sama cantiknya dengan isterinya. Sehingga sulit untuknya mencari isterinya diantara gadis-gadis itu. Namun diantara gadis yang ada tersebut Lahilote yakin dan percaya pada salah satu gadis yang dikenalnya selama ini. Setelah Lahilote mengajaknya pulang, maka sang istri menolak dan mengakui bahwa Lahilote adalah suaminya. Dengan pengakuan ini maka Lahilote tetap berkeras untuk menjagak istrinya turun ke bumi. Akhirnya kesepakatan pun dilahirkan yakni Lahilote akan diakuinya sebagai suaminya jika tinggal dan menetap di khayangan.
Selama bertahun-tahun tinggal di khayangan, rambut Lahilote pun mulai beruban. Kayangan merupakan kehidupan abadi. Bidadari yang tinggal dikhayangan tidak pernah tua maupun beruban, oleh karenanya jika ada yang beruban tinggal di kayangan maka akan dilemparkan ke Bumi. Tumbuhnya uban di kepala Lahilote telah diketahui oleh sang istri. Lahilote pun berkata, “Kalau begitu, cabutlah ubanku ini dan bakarlah” Namun sang istri menolak dengan alasan ini akan lebih berbahaya, para bidadari di kayangan akan mencium baunya. Jalan satu-satunya untuk pergi ke bumi kata sang istri adalah dengan menyambungkan rambut sang istri untuk dijadikan tangga oleh Lahilote turun ke bumi. Namun belum sampai ke bumi, rambut sang istri telah habis disambung-sambungkan. Pada saat itu Lahilote masih melayang-layang di antara langit dan bumi, Ia dihempas-hempaskan oleh angin ke seluruh penjuru mata angin. Dan akhirnya rambut sang istri tersebut putus dan Lahilote terjatuh ke bumi. Jatuhnya Lahilote  ke bumi terbelah dua. Tubuh kanannya jatuh di Kelurahan Pohe Kota Gorontalo dan berbekas disalah satu batu yang ada di pinggir pantai tersebut, sedangkan tubuh sebelah kirinya jatuh di daerah Bualemo, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan meninggalkan telapak kakinya di sana. Bekas telapak kaki Lahilote yang terdapat didua tempat ini disebut masyarakat Gorontalo adalah Botu Liodu.(Nugie)


Read more...